Paket Lombok Wisata

Tradisi kematian bangsawan Sasak yang menampilkan status sosial

Ilustrasi AI tentang tradisi pemakaman bangsawan Sasak dan nisan kuno di Lombok
Ilustrasi dibuat dengan AI, bukan foto lokasi sebenarnya.

Catatan redaksi: Artikel ini disusun dengan bantuan AI berdasarkan sumber yang tercantum di bagian akhir, lalu diterbitkan oleh Redaksi Paket Lombok Wisata. Informasi dapat berubah; periksa sumber asli dan konfirmasi detail perjalanan sebelum berangkat.

Menurut laporan ANTARA NTB, antropolog Gede Arsa dari Vaivasvata menjelaskan bagaimana bangsawan Sasak di Lombok menampilkan status sosial lewat prosesi kematian, usungan jenazah, dan bentuk nisan kuno.

Prosesi kematian sebagai penanda martabat

Menurut laporan ANTARA NTB, komunitas peneliti cagar budaya Vaivasvata mengungkap tradisi bangsawan Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang menampilkan kekayaan dan kekuasaan tidak hanya semasa hidup, tetapi juga dalam prosesi kematian. Antropolog Gede Arsa menyampaikan hal itu saat bedah kajian riset nisan-nisan kuno berhias di Mataram, NTB, pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Arsa menjelaskan bahwa kalangan bangsawan Sasak menampilkan status melalui pakaian, perhiasan, dan atribut ketika hidup. Dalam prosesi kematian, identitas itu diteruskan lewat arak-arakan yang panjang dan mewah, termasuk penggunaan Raja Kepe atau Gili Lebur, yaitu usungan jenazah bertingkat yang mirip bade di Bali. Jenazah ditempatkan dalam peti mati atau tabla, lalu diarak menuju tempat perabuan seperti Lendang Pedem di Pujut.

Nisan dan peti mati sebagai jejak hierarki sosial

Masih menurut Arsa, bentuk dan ukuran nisan di kawasan pemakaman juga memperlihatkan perbedaan sosial di masyarakat Sasak masa lalu. Nisan kuno berhias dipakai berbagai lapisan masyarakat, tetapi ukuran dan kepadatan ragam hiasnya berbeda. Nisan bangsawan cenderung lebih besar, bahkan disebut bisa mencapai sekitar satu meter, dengan hiasan lebih padat, sedangkan nisan masyarakat biasa lebih sederhana dan polos. Ia juga menuturkan bahwa nisan dipahami bukan hanya sebagai benda material, melainkan memori bagi masyarakat masa kini.

Arsa menambahkan, pada masyarakat Sasak Boda di Lombok Utara yang dikenal egaliter dalam keseharian, hierarki genealogis tetap tampak saat kematian melalui peti mati. Kaum elit disebut memakai kayu kenari, sedangkan masyarakat biasa menggunakan kayu dadap. Catatan singkat: jika kamu sedang menyusun perjalanan budaya, sebaiknya konfirmasi kembali konteks situs, aturan kunjungan, serta isi paket tour Lombok, paket wisata Lombok, atau paket liburan Lombok sebelum memilih, karena detail lapangan bisa berbeda dari penjelasan riset.

Sumber

  1. Antropolog mengungkap praktik pamer bangsawan Lombok saat prosesi kematian
    ANTARA NTB ·